Vannevar Bush menulis sebuah artikel di tahun 1945, berjudul ‘As We May Think’ di sebuah majalah ilmiah populer, Atlantic Monthly. Di dalam artikel tersebut, Bush bercerita tentang alat impiannya, berupa sebuah ‘meja kerja’ untuk para ilmuwan yang diberinama MEMEX (baca ‘mi.meks’). Meja ini memiliki layar kaca dan merupakan sebuah ‘mesin memori’ yang dapat menyimpan semua berkas, artikel, buku bacaan, dan surat-menyurat seorang ilmuwan. Dalam bayangan Bush, mesin ini adalah gabungan dari berbagai mesin film-mikro (microfilm), sebab di jaman itu orang belum lagi berpikir tentang komputer-meja (desktop computer). Pemilik mesin ini akan bekerja (mengetik, membaca, berpikir, memeriksa, menganalisa) dengan berbagai berkas film-mikro yang saling berhubungan secara otomatis. Dia dapat membuka dan menutup berkas dengan mudah, sesuai kebutuhannya.
Impian Vannevar Bush inilah yang mendorong Douglas Engelbart, seorang peneliti di Stanford Research Institute, California, untuk menciptakan konsep tentang mesin yang membantu kegiatan kognitif manusia (kegiatan berpikir, terutama dengan saling menghubung-hubungkan berbagai konsep). Dia lalu memunculkan konsep hypertext dan menerapkan konsep itu pada sebuah sistem informasi elektronik (kali ini sudah berbantuan komputer). Dia juga merancang perangkat yang kini kita kenal dengan nama mouse itu. Hasil karyanya ini didemonstrasikan pada tahun 1968 dan masih dapat dilihat di situs Stanford[1].
Ted Nelson mengikuti dengan seksama pikiran-pikiran Bush dan Engelbart, dan dia pun membuat proyek sendiri yang diberinya nama Xanadu Project. Walaupun Engelbart adalah orang yang sebenarnya pertamakali berpikir serius tentang hypertext, namun Nelson lah yang lebih sering dikaitkan dengan konsep ini, karena dia menulis banyak sekali artikel tentang Xanadu. Boleh dikatakan, Xanadu adalah impian yang sangat komplit tentang sebuah jaringan raksasa berisi berbagai teks, foto, film, dan suara yang saling berkaitan, sambung-menyambung, menjadi sebuah mesin raksasa. Lalu, setiap orang, dari mana saja, dapat menggunakan mesin ini untuk mengambil data dan informasi bagi keperluan pribadi maupun keperluan pekerjaan. Bayangan Nelson ini tentu saja sekarang tak asing lagi, setelah akhirnya Internet menjadi realitas. Namun, Xanadu Project itu sendiri akhirnya terbengkalai dan dihentikan.
Sementara itu, Tim Berners-Lee yang bekerja di sebuah laboratorium di Geneva, Switzerland, ikut terpesona oleh ide-ide tentang hypertext. Dia membuat sebuah program komputer yang dirancang untuk menyimpan berbagai jenis data dan informasi, lalu membuat kaitan di antara mereka secara acak. Pada tahun 1989 dia mengusulkan secara gagah-berani agar konsep hypertextuality diperluas menjadi jaringan global agar orang-orang dari berbagai belahan dunia dapat bekerja sama saling bertukar informasi. Dia lah yang mengusulkan, agar jaringan itu diberi nama world wide web. Sekarang, usulan Berners-Lee sudah jadi kenyataan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar